SURAT KEPUTUSAN
SK DARI MENTERI PERTAHANAN DAN KEAMANAN RI
Kamis, 17 Februari 2011
Bensin Langka, Harga Perliter Mencapai Sepuluh Ribu
BENGKAYANG. Langkanya BBM (Bahan Bakar Minyak) jenis bensin membuat harga di kios-kios liar melonjak sangat signifikan. Harganya pun bervaraiasi, tergantung dengan pemilik kios untuk menjualnya. Dari Rp tujuh ribu rupiah perliter sampai 10 ribu rupiah.
Jojon alias Dani Warga Kecamatan Ledo mengatakan, sangat terkejut dengan harga bensin yang ada di ibu kota Kabupaten Bengkayang. Tadi (kemarin, red) ia mengisi bensin di Seibopet Kelurahan Sebalo Kecamatan Bengkayang untuk motornya.
“Massa harga bensin Rp 9000 perliter, sedangkan di kampung saya saja masih enam ribu perliter. Dan harga BBM jenis bensin di pertamina baru Rp 4500 rupiah perliter. Sudah berapa besar keuntungan para pemilik kios liar tersebut,” unkap Jojon ini ditemui di Jalan Bambang Ismoyo, belum lama ini.
Dani-sapaan akrabnya merasa peran Pemda Bengkayang terutama instansi terkait tidak bertanggungjawab atas harga BBM jenis bensin yang melonjak naik. Seharusnya mereka merazia atau melakukan inspeksi mendadak terhadap kios-kios liar tersebut, bila perlu diberikan sanksi tegas karena telah menaikkan harga besin yang sangat signifikan.
Hal serupa dialami oleh Yanto, 30, Warga Kelurahan Bumi Emas. Ia sangat terkejut dengan harga bensin saat mengisi di kios Jalan Bambang Ismoyo, ia dikenai Rp 8000 perliter. Sebelumnya saat ia ingin mengisi bensin di Jalan Sanggau Ledo, pemilik kios menghargai bensin seharga 10ribu perliter.
“Saya sangat heran dengan para pemilik kios yang memanfaatkan langkanya BBM jenis bensin di pasaran. Dpadahal wacana pemerintah pusat dalam hal pembatasan BBM baik itu jenis solar dan bensin pada April mendatang,” keluh bapak empat anak ini, kemarin.
Lain halnya dengan Kasianus, 16, warga Desa Tebuah marong Kecamatan Ledo, motornya kehabisan bensin di jalan Sanggau Ledo, dan ia pun meminjam kendaraan roda dua temannya untuk mencari BBM jenis bensin di kios, karena stock di pertamina sudah habis.
“Harga bensin di kios berbeda-beda,dari tujuh ribu perliter hingga 10 ribu perliter. Tadi saya membeli bensin di jalan Gereja Khatolik dengan harga tujuh ribu rupiah perliter. Sudah capek rasanya berkeliling mencari bensin yang murah,” akunya di temui di depan SD Amkur Bengkayang, kemarin.
Sementara itu, Ami, 35, Warga Bukit Taruna Kelurahan Bumi Emas menceritakan, stock BBM jenis bensin diwarungnya masin 10 jirken yang berkapasitas lima liter, tadi pagi (kemarin, Red) di borong orang dari Seibopet semuanya. Ia yang tidak mengetahui dengan langkanya bensin, dan menjual semuanya dengan harga lima ribu lima ratus rupiah.
“Apabila saya tahu harga bensin langka di pasaran, tidak mau saya jual semuanya. Karena capek antri di pertamina. Sedangkan SPBU yang ada di ibu kota kabupaten baru ada satu saja, seharusnya di Bengkayang minimal tiga SPBU resmi,” sarannya.(cah)
Selasa, 15 Februari 2011
Rutan Harapkan Bantuan Bibit
BENGKAYANG. Dengan keterbatasan yang dimiliki, tujuh buah kolam yang dimaksud untuk membudidayakan ikan telah dibuat pihak Rutan Klas IIB Bengkayang. Namun permasalahannya, kolam yang siap dipakai tersebut hingga kini belum diisi berbagai jenis ikan. Sementara untuk membeli bibit ikan guna mengisi kolam tersebut,
Kepala Kesatuan Pengamanan Rutan (KPR), Edi Suherman, S.Sos mengatakan pihaknya tidak memiliki anggaran untuk pengadaan bibit ikan yang diharapkan. Dengan keterbatasan yang dimiliki, tujuh buah kolam yang dimaksud untuk membudidayakan ikan
“Setakat ini kami telah berkoordinasi dengan instansi terkait agar dapat memberikan bantuan bibit ikan guna mengisi kolam-kolam yang ada di Rutan. dengan terisinya kolam-kolam tersebut, akan banyak manfaat yang bisa diperoleh.” kata Suherman.
Menurut Suherman, dengan terisinya kolam-kolam tersebut, akan banyak manfaat yang bisa diperoleh. Terutama sebagai upaya untuk memberikan keterampilan bagi para penghuni Rutan dalam membudidayakan ikan, sehingga kelak ketika keluar mereka dapat menerapkannya ditempat masing-masing.
“Hal lain dikatakannya sebagai upaya untuk memberikan aktivitas yang berarti bagi penghuni Rutan. Sayang kalau kolam ini tidak dimanfaatkan,” tandasnya sambil menunjukkan salah satu kolam yang belum terisi ikan.
Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bengkayang menjelaskan, apabila niat Ruta Klas II B Bumi Sebalo yang berada di Kecamatan Lumar ingin mendapatkan bibit, kami dapat membantu.
“Asalkan mereka membuat surat atau proposal yang ditujukan kepada kami, dalam hal meminta bantuan bibit ikan, kami akan membantu sesuai dengan anggaran yang ada,” jelas Mantan Kadis Hutbun ini via seluler, kemarin. (cah)
Wujudkan Kecamatan Teriak Swasembada Beras
BENGKAYANG. Selama 11 tahun Bengkayang menjadi kabupaten, kabupaten ini tidak pernah swasembada beras. Sebenarnya Bumi Sebalo tidak pernah gagal panen padi, dan kebutuhan beras raskin dan bulong tidak terlalu dibutuhkan. Dengan program beras raskin membuat masyarakat malas untuk menanam padi baik itu sawah ataupun berladang. KSU Sepakat Bersama ingin wujudkan Kecamatan Teriak swasembada beras.
Heru Kamaruzaman SE, Ketua Umum Koperasi Sepakat Bersama Desa Dharma Bhakti Kecamatan Teriak mengatakan, saat ini pihaknya sedang melakukan terobosan baru dalam menampung gawah kelompok tani yang mereka bina tertama di Kecamatan Teriak dan Bengkayang.
“Dalam rangka menyukseskan ketahanan pangan, salah satunya persiapan pembelian gabah petani. Akhir bulan Februari, rata-rata sudah panen padi ladang, dan sampai saat ini Bumi Sebalo belum ada pengepakan beras seperti kabupaten lain yang ada di Kalbar,” terang Heru ditemui diruang kerjanya, belum lama ini.
Heru menjelaskan, hal ini kami lakukan sesuai dengan rapat anggota (29/12) 2010lalu, bahwa kami sepakat untuk menadah gabah petani terutama padi lading menjadi skala pioritas, sedangkan padi sawah pioritas cadangan.
KSU Sepakat Bersama akan membeli hasil panen petani dengan kualitas baik dan akan di distribusikan di seluruh Kabupaten Bengkayang. Heru sangat prihatin dengan kondisi yang terjadi di Bumi Sebalo. Beras asal kabupaten selama ini hilang dari pasaran, tidak tahu kemana rimbanya.
“Untuk anggota kelompok tani yang telah terdaftar pada koperasi kami, dihargai gabah petani sebesar 3,5 ribu rupiah perkilogram dan standar tiga rbu rupiah. Ini sesuai dengan kualitas dan mutu gabahnya. Sedangkan yang bukan anggota poktan dihargai dua ribu ibu enam ratus rupiah gabah kering,” rinci bapak tiga anak ini, kemarin.
Heru optimis, bahwa terobosan yang mereka lakukan ini akan membuahkan hasil dan suatu saat kecamatan Teriak menjadi salah satu kantong hasil beras di Bumi Sebalo. Dan ia ingin merealisasikan program pemerintah, dimana satu kecamatan memiliki satu komiditi yang di unggulkan.
Hingga saat ini sudah 20 kelompok tani yang di bina oleh KSU Sepakat Bersama, itu baru di Kecamatan Teriak, sedangkan di Kecamatan Bengkayang baru delapan kelompok tani yang bergabung. Semuanya kami bina, baik itu dalam hal kredit pupuk, maupun bibit padi.
“Dalam memproduksi beras, kami masih menggunakan pabrik skala kecil dimana baru lima buah pabrik milik anggota poktan. Saat ini lagi dalam proses untuk mengajuka proposal bantuan mesin pabrik padi kepada Pemda Bengkayang. tidak adanya mesin pabrik padi yang baik merupakan permasalahan yang sedang kami hadapi,” aku pria berambut ikal dan berbadan gempal ini.
KSU Sepakat Bersama telah memesan 2000 lembar karung. Saat ini baru dating separo. Dalam satu karung berisi 10 kilogram. Saat uji coba memasarkan produk, akan di bagikan gratis kepada anggota poktan, setiap anggota mendapatkan satu karung.
“Bengkayang tidak pernah gagal panen seperti daerah lain. Oleh karena itu, kami ingin mewujudkan Kecamatan Teriak swasembada beras. Adapun merk beras produk kami ialah Beras Bumi Sebalo, beras organic karena merupakan beras gunung,” bebernya.
Sementara itu, Desman, 21, Warga Desa Dharma Bhakti sangat berterima kasih kepada pihak KSU Sepakat Bersama karena telah membantu petani yang ada di desanya, terutama menampung gabah yang di jual oleh petani. Karena selama ini petani kesulitan dalam menjual gabah dan harga beli cukong di bawah standar harga gabah nasional perkilogramnya 2750 rupiah.(cah)
Kekuatan Jalan Proyek Multi Years Diragukan, Lapor DPRD Kalbar
BENGKAYANG. Proyek multiyears merupakan program dari pemerintah provinsi Kalbar untuk mengerjakan jalan dari Sanggau Ledo sampai ke Jagoi Babang. Hal ini dimaksud untuk memperbaiki jalan yang sudah rusak berat sejak puluhan tahun lalu. Apabila kekuatan jalan proyek multi years diragukan kekuatannya, laporkan saja ke DPRD Kalbar.
Ary Pudyanti SE, anggota Komisi C DPRD Kalbar mengatakan, datang ke Kabupaten Bengkayang ingin memantau sampai dimana pengerjaan proyek multiyears propinsi dari Sanggau Ledo sampai Jagoi Babang.
“Saya hanya tahu nama lokasi pengerjaan jalan saja, tetapi tidak mengetahui batas dan tempatnya. Oleh karena itu, ia meminta bantuan Bupati Bengkayang Suryadman Gidot untuk menjelaskan batas dan wilayah Kecamatan Sanggau Ledo, Seluas dan Jagoi Babang,” aku Ary yang juga Ketua Fraksi Partai demokrat ini di temui di kediaman Bupati Bengkayang di jalan Sanggau Ledo, belum lama ini.
Legislator dari Dapil Kota Pontianak ini membeberkan, ia juga menyempatkan diri untuk berkomunikasi dengan masyarakat setempat mengenai pengerjaan jalan proyek multiyears tersebut, karena sesuai dengan tupoksinya di Komisi C.
“Apabila masyarakat merasa pengerjaan jalan tersebut tidak sesuai dengan bistek atau kekuatan jalan tersebut diragukan, segera melayangkan surat ke Komisi C DPRD Kalbar. Dengan tangan terbuka kami akan menindaklanjutinya dan memanggil pihak PU dan pemenang tender untuk menjelaskan kepada kami,” saran Ary, kemarin.
Ary yang berasal dari Jawa tengah ini menjelaskan, proyek multi years apabila tidak ada pengawasan dan control dari selruruh elemen masyarakat Bumi Sebalo akan berdampak dengan kualitas jalan yang dikerjakan oleh pemenang tender.
Sementara itu. Bupati Bengkayang Suryadman Gidot SPd mengungkapkan, mengenai proyek multiyears, dirinya tidak ikut campur, karena itu merupakan wewenang provinsi. Dan proses tendernya juga di ibu kota Kalbar.
“Ia sangat bersyukur kepada Pemprov Kalbar yang memiliki niat baik untuk memuluskan jalan menuju perbatasan Indonesia-Malaysia. Karena sudah puluhan tahun jalan tersebut rusak parah dan tidak pernah diperhatikan,” terang Wakil Bupati Bengkayang periode 2005-2010 ini ditemui dikediamannya, kemarin.
Jumat (11/2) lalu ia mengantar anggota DPRD Kalbar dari Partai Demokrat ke Jagoi Babang. Karena ada beberapa legislator berasal dari komisi C. mereka meminta bantuan untuk mengetahui batas-batas Kecamatan Sanggau Ledo, Seluas dan Jagoi Babang sekaligus menjelaskan di lapangan. Gidot beserta istri sekalian membawa rombongan ke Serikin Serawak Malaysia untuk melihat suasana dan kondisi pasar disana yang mayoritas pedagangnya berasal dari ibu kota Kalbar.
Lain halnya dengan Saga, 53, warga Kecamatan Bengkayang, ia sangat menyayangkan dengan dibuatnya parit yang berjarak kurang lebih satu meter dari bahu jalan provinsi. Karena akan berdampak dengan rawannya kecelakan, karena jaraknya yang terlalu dekat.
“Seharusnya parit di buat pas di batas DMJ , bukan hanya satu meter dari bahu jalan. Inikan jalan provinsi, apabila PPLB Jagoi dibuka, otomatis ada peningkatan jalan menjadi jalan pusat atau nasional. Dan parit tersebut akan di tutup dan buat baru lagi, ini nyata-nyata untuk menghabiskan anggaran saja dan pola pikir pemborongnya masih sempit,” jelas bapak berambut ikal dan berkulit sawo matang ini.
Saga juga mengomentari molen yang digunakan oleh pemborong dalam membuat jalan rabat beton. Ia menjelaskan, seharusnya pemenang tender menggunakan molen besar yang memakai truck, bukan molen kecil. Ini akan mengakibatkan ketahanan rabat beton tersebut tidak akan bertahan dengan lama.
“Begitu juga dengan pengerjaan jalan rabat beton yang tidak langsung menutup bahu berm jalan dengan tanah. Ini terkesan dibiarkan saja. Wajar saja Desember 2010 lalu dua buah kendaraan roda empat tumbang, karena berm tidak di timbun dengan tanah,” ulasnya.
Apabila berm tersebut langsung di timbun dengan tanah, pasti tidak akan terjadi hal tersebut. Ia juga mengeluhkan dengan ketahanan rabat beton tersebut, karena dari pantauannya saat melintasi jalan tersebut menuju Jagoi, kondisi bahu jalannya banyak yang retak dan roboh dilindas ba mobil. Parahnya, baru beberap a bulan banyak yang berlubang rabat beton tersebut di Dusun Pereges Kecamatan Seluas.
“Saya yakin, dengan tanda-tanda kerusakan jalan rat beton tersut dari pengerjaan jalan proyek multi years yang teresan asal-asalan, jalan provinsi ini tidak akan bertahan dengan lama. Sama halnya dengan jalan dari Anjungan sampai ke Tian Tanjung Kabupaten Landak yang belum beberapa bulan di aspal, sekarang sudah rusak dan ditambal lagi,” tandasnya.
Ia berharap para konsultan dna pihak PU benar-benar mengawasi pengerjaan proyek multi years tersebut. Apabila jalan ini cepat rusak, bukan kontraktor yang merasakan jalannya, tetapi masyarakat sekitar yang merasakan setiap hari jalan tersebut rusak.
Oleh karena itu, ia berharap pihak LSM, media massa, Pemda Bengkayang, dan masyarakat Bumi Sebalo untuk melakukan pengawasan dan monitoring terhadap pengerjaan proyek multiyeras tersebut. Ini semua demi warga Kabupaten Bengkayang yang setiap hari hilir mudik jalan tersebut.
Saat awak Koran ini menanyakan kepada salah satu warga Seluas yang tidak ingin disebutkan namanya membeberkan, bahan baku seperti pasir dan batu untuk pengerjaan jalan dari Jagoi sampai Seluas, kebanyakan di impor dari Serikin Serawak Malaysia. (cah)
Libatkan Masyarakat Membangun Bengkayang Secara Proporsional
BENGKAYANG. 11 tahun yang lalu, Bengkayang merupakan kota kecil dan sebuah kecamatan. Semenjak pertengahan 1999, Kabupaten Sambas dimekarkan menjadi dua kabupaten yakni Sambas dan Bengkayang. Walau sudah menjadi kabupaten, Bumi Sebalo masih tertinggal dengan kabupaten lainnya yang ada di Kalbar. Oleh karena itu, perlunya melibatkan masyarakat membangun Bengkayang secara proporsional demi kemajuan kabupaten ini.
Obaja SE MSi, Kepala Bappeda Kabupaten Bengkayang mengatakan, setiap tahun akan diadakan musrenbang (Musyawarah Rencana Pembangunan) baik dari tingkat desa, kecamatan sampai kabupaten. Baik itu RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) maupun RKPD (Rencana Kerja Perangkat Daerah).
“Rencana kerja inilah untuk tahun depan direalisasikan dan ini sebagai bahan kita untuk mencari bahan atau materi. Tujuan salah satunya untuk menyerap aspirasi dari tingkat desa. Supaya pembangunan sesuai dengan yang dibutuhkan masyarakat dan sesuai dengan visi dan misi Bupati Bengkayang periode 2010-2015,” terang Mantan Asisten III Setda Bengkayang ditemui diruang kerjanya, belum lama ini.
Obaja menjelaskan, setelah Musrenbang tingkat desa dan kecamatan dilakukan, Pemda Bengkayang menyerap aspirasi tersebut dan dirembuk di tingkat kabupaten. Musrenbang tingkat kabupaten menjadi output para SKPD untuk memuat program yang direncanakan pada tahun yang akan datang. RKPD merupakan kumpulan-kumpulan rencana kerja SKPD yang ada di Bumi Sebalo.
Perlu diketahui, Pemda Bengkayang memiliki panduan kerja dalam lima tahun yakni RPJMD, yang diturunkan atau dipecah menjadi pertahun yakni RKPD. Saat penyusunan program dan kegiatan, pasti ada pertimbangan dengan berbagai criteria seperti cakupan wilayah yang akan di bangun, muatan program dan kegiatan, dan turunan dari program dan kegiatan di seleksi atau dipilih untuk dijadikan program pioritas.
“Dari cakupan wilayah kita berusaha membangun Bumi Sebalo secara proporsional. Ini dimaksud untuk satuan wilayah pembangunan yang satu dengan wilayah pembangunan yang lainnya diberlakukan secara adil,” jelas bapak berambut ikal dan berkulit sawo matang, kemarin.
Obaja mengungkapkan, yang tidak kalah penting pertimbangan yang harus diperhatikan ialah program dan kegiatan butuh dana untuk direalisasikan di lapangan. Kita harus mampu memobilisasi pendanaan program dan kegiatan dalam massa setahun.
Disamping itu, untuk mempercepat pembangunan, kita harus menggerakkan kekuatan bersama baik itu pemda, masyarakat dan pihak swasta demi kemajuan Kabupaten Bengkayang. Musrenbang berusaha menjawab visi dan misi Bupati Bengkayang terpilih, oleh karena itu, program dan kegiatan harus riil dan bermanfaat bagi seluruh elemen masyarakat Bumi Sebalo.
“Membangun sebuah kabupaten harus mengggunakan tatanan yang berpijak kepada ketentuan dan peraturan perundang-undagan yang berlaku. Disamping itu, harus mempertimbangkan karakteristik suatu wilayahyang bersangkutan serta melibatkan masyarakat secara proporsional. Hal ini dimaksud, supaya ada rasa tanggungjawab rakyat untuk membangun Bumi Sebalo lebih maju kedepannya,” sarannya. (cah)
Sabtu, 05 Februari 2011
Bengkayang Miliki Sekolah Sepakbola
Bengkayang. melonjaknya prestasi timnas Indonesia dalam sepakbola membuat seluruh masyarakat gila akan bola kaki, bukan hanya di pulau Jawa saja, di Kalbar bahkan Bengkayang ikut dampaknya, kini Bumi Sebalo perlu berbangga hati karena telah memiliki sekolah sepakbola sehingga anak-anak yang memiliki bakat alam dalam sepakbola dapat mengasah dan belajar lebih baik lagi dalam bermain sepakbola.
Soponias Dentri, Pemilik SSB (Sekolah Sepakbola Bengkayang) Garuda FC mengatakan, sebenarnya Garuda FC telah berdiri sejak 1969 di Bum Sebalo, tetapi di aktifkan kembali dan dibuatkan aktanya 2010 lalu. SSb merupakan satu-satunya sekolah informal pertama kali ada di kabupaten ini.
“Anak-anak Kabupaten Bengkayang sangat potensial dalam sepakbola, selama ini tidak ada tempat atau wadah bagi mereka untuk mengembangkan bakat alamnya. Sebagai putra asli Bengkayang, saya sangat tergugah dengan kondisi ini dan bermimpi suatu saat ada anak-anak dari Bumi Sebalo dapat membela club baik di ISL, LPI, timnas Indonesia bahkan ke luar negeri,” aku Dentri ditemui diruang kerjanya di Jalan Ngura, Minggu (6/2).
Dentri menjelaskan, dengan adanya SSB dapat menumbuhkembangkan cinta anak-anak kepada sepakbola di Kabupaten Bengkayang. SSB juga sebagai wadah yang positif untuk menghindari kegiatan yang negative dan merugikan massa depan anak.
Dari pada anak-anak sepulang sekolah bermain game di internet maupun PS2 atau bermain laying-layang, lebih bergabung dengan SSB. Ini merupakan tempat kumpulnya anak-anak yang memiliki bakat dan prestasi di bidang sepakbola.
“Saya ingin memberi motivasi orang-orang Bengkayang untuk bermain sepakbola sebagai mata pencaharian, bukan untuk olahraga atau senang-senang dan hobi. Apabila sejak dini kita tidak melatih bibit-bibit sejak kecil, kapan kita dapat menonton orang Bumi Sebalo main sepakbola di SLI atau LPI,” terang Dentri, kemarin.
Dalam awal tahun ini, Dentri mengakui menerima peserta didik dari umur enam sampai 18 tahun. Sekolah dibagi dua tingkatan dimana pada tingkat dasar dan menengah. Tingkat dasar menengah dasar pertama lama pendidikannya empat tahun dari umur enam sampai 10 tahun, sedangkan dasar dua selama dua tahun dengan usia 11-12 tahun.
Sementara tingkat menengah pertama selama dua tahun yakni dari usia 13-14 tahun dan menengah kedua selama tiga tahun dari umur 15-18 tahun. Lebih lanjut Dentri memaparkan, biaya yang dikeluarkan oleh orang tua untuk memasukkan anaknya di SSB hanya dengan 400 ribu rupiah saja termasuk iuran semester awal.
“Tempat latihan siswa di lapangan kebanggaan warga Bengkayang yakni lapangan BRC. Dalam seminggu tiga kali pertemuan denga masing-masing pertemuan dua jam. Saat latihan tidak mengganggu jam sekolah formal siswa. Jadwalnya disesuaikan dengan situasi dan kondisi wilayah kabupaten ini,” jelasnya.
Dentri berharap, dengan didirikannya SSB, persepakbolaan Bengkayang dapat meningkat. Dan ia berencana untuk menyelenggarakan pertandingan sepakbola yang berkelanjutan untuk mengasah anak didiknya dengan masyarakat Bumi Sebalo.
Ia membeberkan, Minggu (6/2) pukul 15.00 Garuda FC akan melakukan tanding persahabatan dengan Humster FC milik orag sambas yang berdomisili di Jakarta dan merupakan sang juara liga pedagang asal Kalimantan tahun lalu.
ini waktu yang tepat karena semuanya pada liburan dan pulang kampong jadi memiliki waktu yang luang untuk melakukan petandingan persahabatan. Dentri mengungkapkan, SSB mulai aktif Senin (7/2) mendatang.
“Kami memiliki pelatih yang professional dan teruji. Adapun para pelatih SSB ialah Sentot mantan pemain Persema (1979-1987) sekaligus mantan pelatih Persibeng (Persatuan Sepakbola Bengkayang), Panji Hidayat mantan pemain Persipon, Kon Nyak Sin pemain legendaris Bumi Sebalo, dan Wendo mantan Kapten team Kalbar pada PON VIII Kaltim,” rincinya.
Jadi pelatih yang ada memang memiliki basic sepakbola professional dan sudah melalang buana di dalam dunia persepakbolaan Indonesia. Ke empat pelatih tersebut akan mendidik dan mengajar siswa SSB. (cah)
Warga Keluhkan Jalan Dalam Ibu Kota Kabupaten Kubangan Lumpur
BENGKAYANG. Sejak dimekarkan dari Kabupaten Sambas 1999 lalu, dan sampai saat ini Jalan Pakok yang berada di dalam ibu kota kabupaten tidak pernah tersentuh pembanguan terutama akses jalan. Sungguh disayangkan, masih ada daerah yang berada di ibu kota kabupaten kondisi jalannya dipenuhi kumbangan lumpur.
Agus, 32, warga Kelurahan Bumi Emas mengatakan, jalan Pakok yang tembus ke Jalan Basuki Rachmad kondisinya sangat memprihatinkan. Hal ini bukan tanpa alasan, kurang lebih 200 meter belum ada badan jalan padahal jalan tersebut masih dalam ibu kota Kabupaten Bengkayang.
“Jalan di ibu kota kabupaten saja begitu, apalagi di kecamatan dan desa yang jauh dari pusat pemerintahan Bumi Emas, mungkin lebih parah lagi. Padahal jalan tersebut merupakan jalan yang sering digunakan oleh seluruh elemen masyarakat Bumi Emas, karena jarak tempuh dari RSUD Bengkayang ke Jalan Basuki Rachmad sangat dekat,” keluh bapak satu anak ini ditemui di Jalan Basuki Rachmad, Rabu (19/1).
Perlu diketahui, dari titik nol Jalan Pakok dari Jalan Sanggau Ledo tepatnya di depan RSUD Bengkayang, kurang lebih 200 meter yang sudah pengerasan. Dan dari titik nol berada di Jalan Basuki Rachmad kurang lebih 100 meter sudah pengerasan. Sedangkan daerah yang berada di tengah-tengah tidak ada pengerasan.
Agus melanjutkan, selama ini masyarakat jarang melewati Jalan Pakok baik yang datang dari Jalan Basuki Rachmad maupun dari Jalan Sanggau Ledo. Hal ini karena jalan Pakok yang berada ditengah di penuhi oleh kumbangan lumpur walaupun musim kemarau.
“Sebagai warga yang menggunakanJalan Pakok, berharap kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkayang untuk segera membuka badan jalan dan pengerasannya. Ini semua demi kepentingan hanya masyarakat yang menggunakan jalan ini, bukan hanya warga setempat saja. Seharusnya pemkab malu dengan kondisi jalan tersebut apalagi masih berada di belakang pasar Bengkayang,” harapnya.
Ditambahkan Matius, 35, warga Bumi Emas. Pemda Bengkayang seakan tutup mata dengan kondisi Jalan Pakok tersebut. Bumi Sebalo sudah berumur 11 tahun lebih. Dan awal berdirinya kabupaten Bengkayang, kantor Bupati berada di Jalan Basuki Rachmad bersebelahan dengan Jalan Pakok. Tidak mungkin mereka tidak mengetahui hal tersebut.
“Untuk menuju RSUD Bengkayang dari Jalan Basuki Rachmad yang jarak tempuhnya dekat dan membutuhkan waktu lima sampai 10 menit, harus berputar melalui jalan provinsi sehingga waktu tempuh yang dibutuh dua kali lipat,” terang bapak dua anak ini, kemarin.
Matius menyarankan kepada instansi terkait, pembukaan badan jalan dan pengerasan Jalan Pakok segera direalisasikan. Minimal 2012 sudah mulus jalan tersebut. Jangan hanya membangun jalan itu-itu saja, sehingga hasil pembangunan tidak Nampak. (cah)
Polsek di Kabupaten Bengkayang Kekurangan 50 psersen Personil
BENGKAYANG. Luasnya wilayah Kabupaten Bengkayang tidak sebanding dengan jumlah personil kepolisian yang tersedia. Setiap polsek yang ada di Bumi Sebalo kekurangan 50 personil. Termasuk Polsek Jagoi Babang di daerah perbatasan yang tindak kejahatannya tinggi.
Kapolsek Jagoi Babang, Kompol Hartono Wtp mengatakan, Kepolisian Sektor (Polsek) yang ia pimpin, salah satu Polsek Urban. dikatakan Urban karena Polsek ini memiliki wilayah hukum yang berbatasan dengan negara tetangga, Malaysia.
“Kita hanya memiliki dua puluh personil. Ini kurang, karena kita seharusnya memiliki sembilan puluh personil sebagai Polsek Urban,"beber Hartono Wtp, ditemui diruang kerjanya, Selasa (25/1).
Hartono mengungkapkan, dengan jumlah personil yang dimiliki sementara, dirinya bersama jajaran anggota siap untuk bekerja secara maksimal. Bekerja untuk menjaga keamanan, ketertiban, kenyaman hidup masyarakat, khususnya masyarakat Jagoi Babang. Dengan dua puluh personil itu juga, Hartono akan berusaha menurunkan angka kriminal yang terjadi di Jagoi Babang.
“Kita akan bekerja semaksimal mungkin dengan anggota yang ada. Namun kita berharap dalam waktu dekat anggota kita. Status Urban itu dikenakan pada Polsek Jagoi Babang karena potensi kerawanan yang sangat besar,” ungkapnya.
Dengan peningkatan status diikuti jumlah personil yang bertambah, diharapkan Polsek itu dapat bekerja, sehingga dalam tugas pelayanan pelindung, pengayom dan penegakan hukum di wilayah perbatasan bisa lebih optimal.
Sementara itu, Kapolres Bengkayang, AKBP Mosyan Nimitch SIK menjelaskan, bukan hanya Polsek Jagoi Babang saja yang kekurangan, tetapi rata-rata Polsek yang ada di Bumi Sebalo kekurangan 50 persen personil.
“Kekurangan personil yang ada di Kabupaten Bengkayang rata-rata belum dapat di penuhi semuanya. Solusinya, setiap tahun akan ada penambahan sedikit demi sedikit,” terang orang nomor satu di Mapolres Bumi Sebalo via telepon seluler, Jumat (4/2).
Nimitch menjelaskan, dengan kondisi kekurangan personil disetiap polsek yang ada, yang terpenting kualitas personil dalam menjalankan tugas dan menangani kasus walaupun kuantitas polisi yang ada masih kurang. (cah)
Warga Tebuah Pilih Golput Pemilukada Sambas
SAMBAS. Pemilukada Sambas sedang berjalan, para kandidat dan tim sukses sibuk mengobral janji kepada masyarakat, demi memenangi pesta demokrasi yang diadakan lima tahun sekali untuk duduk dikursi KB 1 P. Bagi Masyarakat Tebuah, apapun janji manis seperti lagu Dewi Persik, tidak terlena. Mereka lebih memilih golput (Golonga Putih) dibandingkan menyempatkan waktu untuk mencoblos kandidat yag bertarung.
Uci, 23, warga Tebuah Kecamatan Subah Kabupaten Sambas mengatakan, mengenai Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Sambas 2011 ia tidak terlalu mengambil pusing dan tidak tahu siapa saja kandidat yang memperebutkan kursi KB 1 P tersebut.
“Untuk apa memikirkan Pemilukada, dari dulu sampai sekarang kami tidak pernah diperhatikan oleh Pemda Sambas. Kami selaku warga yang berbatasan dengan Bengkayang merasa dianak-tirikan. Masyarakat Tebuah tidak pernah mengecap hasil pembangunan selama ini,” tegas pria lajang ini ditemui dikediamannya, Kamis (3/2).
Uci mengungkapkan, kurangnya perhatian dari Pemda Sambas untuk membangun kampungnya membuat ia dan beberapa warga cuek dan tidak peduli siapa yang akan menjadi orang nomor satu di Bumi………
“Pemda Sambas selama ini lebih memperhatikan wilayah lain dan daerah kami tidak pernah tersentuh pembangunan baik itu sarana maupun prasarana disegala bidang. Mau ke ibu kota saja susah payah dikarenakan jalan rusak berat dan menjual hasil pertanian sulit,” ungkapnya.
Lanjutnya, ia mencontohkan dalam hal sekolah, banyak warga Tebuah yang melanjutkan sekolah baik itu di tingkat SMP maupun SMA di Ledo dan Bengkayang. Hal ini dikarenakan akses jalan menuju Subah sangat sulit. Dan apabila musim penghujan, anak-anak tidak dapat bersekolah dikarenakan banjir.
Sedangkan dalam hal CPNS, warga Kecamatan Subah susah payah untuk jebol dikarenakan Pemda Sambas masih berbau SARA untuk menerima pegawainya. Peluang kerja terutama menjadi PNS Kabupaten Sambas yang tidak kesampaian membuat kebanyakan masyarakat lebih memilih menjadi warga Bengkayang.
“Menjadi warga Bengkayang, anak-anak yang bersekolah sampai ke jenjang perguruan tinggi dapat jebol menjadi PNS Bumi Sebalo. Di kampung kami saja sudah ada beberapa yang telah menjadi guru PNS Bengkayang, karena sudah beberapa kali daftar CPNS di Sambas tidak lulus,” bebernya.
Orang tua di kampung kami memang dalam status kependudukan warga Sambas, tetapi anak-anaknya yang menyelesaikan kuliah banyak menjadi warga Bengkayang. Pemda Sambas tidak boleh menyalahkan warga yang lebih memilih menjadi penduduk Bumi Sebalo, tetapi harus instropeksi diri terlebih dahulu, kenapa rakyatnya pindah.
Sebagai masyarakat yang tidak pernah diperhatikan dan dianak-tirikan oleh Pemda Sambas menjadi punca warga pindah ke kabupaten lain. Hal ini wajar bagi rakyat yang tertindas, bagi yang anak emas hal tersebut membuat tercorengnya pemimpin kabupaten ini.
Ditambahkan Moses, 21, Warga Tebuah. Ia kuga tidak mau ambil pusing mengenai Pemilukada Sambas 2011. Niat untuk menjadi anggota KPPS atau PPS pun tidak ada dipikirannya untuk menyukseskan jalannya pesta demokrasi di negeri………………….
“Lebih baik golongan putih saja saat hari H pencoblosan. Lagipula aku tidak kenal dengan wajah dan nama kandidat yang bertarung. Apabila paslon terpilih memimpin kabupaten Sambas lima tahun kedepan, sama seperti Bupati sebelumnya yang menganak-tirikan kami disini,” tegas pria berambut lurus dan berkulit sawo matang ini.
Sama halnya dengan Root, 50, Warga Tebuah. Ia sangat pesimis kandidat terpilih untuk memimpin Kabupaten Sambas lima tahun kedepan akan memperhatikan wilayahnya dalam hal pembangunan insfrastruktur baik sarana mapun prasarana.
“Mati-matian kita menyekolahkan anak sampai ke perguruan tinggi, tetapi setelah selesai kuliah dan ada pembukaan CPNS, tidak lulus. Bukan hanya satu atau dua kali test CPNS, tetapi setiap ada pembukaan mendatar tetap saja tidak lolos,” keluh bapak lima anak ini.
Ia menceritakan, anak sulungnya pindah menjadi warga Bengkayang dan saat CPNS lolos, begitu juga dengan anaknya yang nomor dua, dipindahkan menjadi penduduk Bumi Sebalo, dengan maksud apabila ada pembukaan CPNS dan lolos tidak lagi sibuk mengurus administrasinya. (cah)
Kepengurusan KONI Bengkayang Lowong
BENGKAYANG. Sejak 1 Januari 2011, kepengurusan KONI Bengkayang dinyatakan berakhir. Segala kewenangan, hak dan penggunaan atribut yang masih melekat pada kepengurusan 2006-2010 dinyatakan tidak berlaku lagi.
Kasi Pembinaan Olahraga DIsbudparpora Fabianus Oel SPd mengatakan, ia diperintahkan oleh Bupati Bupati Bengkayang Suryadman Gidot SPd untuk mengurus secara teknis dengan lowongnya kepengurusan KONI Bumi Sebalo karena massa bhakti 2006-2010 telah berakhir 31 Desember 2010 lalu.
Ini dibuktikan dengan berdasarkan surat nomor 400/0047/Kesra/2011 tanggal 17 Januari 2011 perihal pemberitahuan berakhirnya masa jabatan kepengurusan KONI Bumi Sebalo massa bhakti 2006-2010. Yang ditandatangani Kepala daerah Bumi Sebalo.
“Sejak 1 Januari 2011, kepengurusan KONI Bengkayang dinyatakan berakhir. Segala kewenangan, hak dan penggunaan atribut yang masih melekat pada kepengurusan 2006-2010 dinyatakan tidak berlaku lagi,” tegas Oel-sapaan akrabnya ditemui di ruang kerjanya, Jumat (4/2).
Oel menjelaskan, saya hanya diamanatkan oleh Bupati Bengkayang untuk menyampaikan ini kepada seluruh Pengkab dan pengurus KONI Bumi Sebalo. Surat tersebut sudah diserahkan kepada semua pengurus.
“Sambil menunggu akan dilaksanakannya musorkab KONI Bengkayang, sebagai upaya pembentukan kepengurusan yang baru diharapkan kepada semua pengkab yang ada, segera melengkapi bukti kepengurusan yang berupa SK dari Pengda kalbar dan bendera pengkab ke Sekretariat KONI di Jalan Sentagi Dalam,” harap Oel.
Perlu diketahui, dasar surat ini ialah SK KONI Kalbar No 1/2008 tentag pengukuhan personalia pengurus KONI Bengkayang 2006-2010, Surat Ketua Umum KONI Kalbar No 47/ORG/II/2010 tertanggal 4 Februari 2011 perihal perpanjangan massa bhakti kepengurusan KONI Bengkayang yang sebelumnya berakhir 31 Januari 2010 diperpanjang 31 Desember 2010.
Selain itu, KONI Kalbar mendesak KONI Bengkayang melakukan musorkab dengan surat Sekretaris Umum KONI Kalbar No 02/ORG/I/2010 tertanggal 6 Januari 2011 perihal pemberitahuan musorkab KONI Bengkayang.
“Pengkab yang ada di Bumi Sebalo sesegera mungkin menyampaikan data ke Disbudparpora, karena selama ini tidak pernah disampaikan oleh pihak KONI Bengkayang kepada kami. Kami membutuhkan data-data tersebut untuk diberi pembinaan oleh Pemda Bumi Sebalo. Selain itu, untuk mengantisipasi dualisme kepengurusan. Sehingga undangan musorkab tiba ke tangan yang benar,” terang Oel.
Adapun data-data yang perlu disampaikan oleh pengkab kepada Disbudparpora, bukti fisik SK dari Pengda Kalbar, bendera pengkab, dan data atlit binaan. Apabila bendera ada pada pemda Bumi Sebalo, bendera tersebut akan dipajang di Disbudparpora. Sedangkan pihaknya meminta data atlit binaan, tidak lain untuk mengantisipasi ada pengurus tetapi atlit tidak ada.
Oel mengakui, selama ini pihaknya mengalami kesulitan dalam mencari data pengkab yang ada di Bengkayang. Hal ini dikarenakan KONI dan Disbudparpora berjalan sendiri-sendiri. Sehingga kurangnya koordinasi antara Koni dan Disbudparpora.
“Lowongnya kepengurusan KONI Bengkayang, sehingga Bupati Bengkayang sebagai kepala daerah mengambil kebijakan untuk sementara waktu beliau yang pimpin sambil menunggu musorkab dan kepengurusan baru terbentuk,” jelasnya.
Parahnya, SPJ KONI Bengkayang 2006-2010 tidak pernah sampai ke Kabid Olahraga. Oleh karena itu, untuk sementara urusan teknis pemda mengambil alih terutama dari Disbudparpora. Setelah kepengursa sudah terbentuk, akan diserahkan kepada pengurus yang baru.(cah)
SSB Garuda FC Ajak Ferdinand Liburan Ke Bengkayang
BENGKAYANG. SSB (Sekolah Sepakbola Bengkayang) Garuda FC merupakan sekolah informal yang pertama di Bumi Sebalo. Pemiliknya merupakan putra asli Bengkayag yang memiliki keinginan untuk meningkatkan kualitas persepakbolaan di kabupaten ini. SSB mengajak pemain professional dari Nigeria yag sudah lama menetap di Jakarta yakni Ferdinand untuk menyadarkan anak-anak dan pemuda Bumi Sebalo akan pentingnya bermain sepakbola.
Ferdinand, 28, Warga Imo steat, Nigeria mengatakan, ia datang ke Bengkayang dalam rangka liburan Imlek 2562 bersama temannya pemilik Sekolah Sepakbola Bengkayang Garuda FC, Soponias Dentri. Ia tinggal di Jakarta dan teman-temannya banyak berasal dari Bumi Sebalo.
“Saya datang ke Indonesia tahun 2007 di kontrak oleh Club Pasidikab Kediri 2007-2008, sebelumnya saya bemain sepakbola di Singapura dengan club Sporting Africa dari 2005-2007. Saya suka sepakbola Indonesia karena banyak penonton tidak seperti di Singapura,” aku Ferdinand ditemui di Sekretariat SSB Garuda FC di Jalan Ngura, Jumat (4/2).
Ferdinand menjelaskan, selama ia bemain di SIngapura tidak ada penontonnya karena masyarakat Singapura lebih suka ke Kasino dibandingkan ke tribune untuk menyaksika pertandingan sepakba. Tidak seperti di Indonesia, penontonnya sangat antusias menyaksikan setiap kali pertandingan.
“AKu malas bermain sepakbola apabila tidak ada penontonnya. Makanya saya betah bermain dan tinggal di Indonesia. Apalagi istri saya berasal dari Solo Jawa Tengah. Dikarenakan saya berada di Bengkayang, saya tidak dapat menghadiri hari ulang tahun anak saya demi menggairahkan semangat pemuda Bumi Sebalo untuk bermain sepakbola secara professional,” terang bapak anak satu ini.
Ia mengakui, saat ini belum ada club yang meminangnya dikarenakan agennya belum mendapatkan persetujuan dengan club dalam hal kontrak kerja. Ia mengungkapkan, saat masih di kontrak Club Sporting Africa, ia sempat dipinjamkan ke Johor FC Malaysia untuk bermain selama separuh musim.
Ferdinand merupakan sosok pemain yang potensial, tetapi ia tidak bernasib baik dikarenakan agennya yang sebelumnya membuat karier sepakbolanya redup. Namun kini ia berharap dengan agen barunya ia dapat mendapatkan club dan dapat bermain di Indonesia.
“Saya pernah di panggil untuk bergabung di U-17 Nigeria, berhubung aku cidera jadi tidak bergabung.di Negara kami, mau masuk timnas harus bermain sepakbola di Eropa, apabila di Asia tidak akan pernah di panggil untuk bermain ke timnas. Saya pernah di minta untuk bermain di liga Blanda, tetpi saya masih menjajakinya dan menyuruh agen saya berbicara dengan club yang ada disana,” beber Ferdinand.
Ia menceritakan, sejak umur lima tahun di negaranya, anak-anak sudah pandai bermain sepakbola. Apabila tidak dapat berman sepakbola professional, pemuda Nigeria baru mencari profesi atau pekerjaan lain.
Usai wawancara, awak Koran ini di ajak oleh pemilik SSB Garuda FC, Dentri untuk bermain sepakbola di lapangan kebanggaan Bengkayang yakni lapanga BRC. Ferdinand menunjukan kebolehannya dalam mengolah bola. Decak kagum terlontar dari mulut semua orang yang berada di lapangan melihat dengan mudahnya Ferdinand mengolah bola.
Saat bermain bola, Ferdinand menyumbangkan tiga buah gol untuk Garuda FC A melawan Garuda FC B. ketiga gol tersebut lewat heding kepalanya. Ferdinand berposisi di gelandang.
Fabianus Oel, Kasi Pembinaan Olahraga Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda Dan Olahraga Kabupaten Bengkayang saat berada di lapangan BRC mengungkapkan, sangat kagum dengan cara Ferdiannd mengolah si kulit bundar.
“Ini lah bukti seseorang yang bertekad untuk menjadikan sepakbola sebagai mata pencaharian. Ia bermain secara professional. DiBumi Sebalo banyak anak-anak dan pemuda yang berbakat dalam sepakbola tetapi tidak ada wadah dan kurangnya pembinaan,” keluh Oel, kemarin.
Oleh karena itu, ia berharap dengan datangnya Ferdinand ke Bengkayang dapat menumbuh kembangkan minat dan gairah anak-anak dan pemuda Bumi Sebalo untuk lebih giat berlatih, siapa tahu kelak mereka dapat menjadi pemain professional. (cah)
Masyarakat Harus Bedakan Hak PLN dan Instalatir
BENGKAYANG. Kurang pahamnya masyarakat Bumi Sebalo mengenai tariff yang harus dibayar saat pemasangan baru membuat nama baik PLN tercemar. Asumsi masyrakat yang menyudutkan pihak PLN tidak dapat disalahkan, karena pihak PLN kurang mensosialisasikan aturan yang berlaku saat pemasnagan baru. Masyarakat Bengkayang harus mengetahui mana hak PLN dan Instalatir.
G Adi Kurniawan SH, Manajer PLN Ranting Bengkayang melalui Supiandi, Spv Pelayanan Pelanggan mengatakan, mengenai pemberitaan media cetak local yang menyudutkan pihak PLN memeras masyarakat Suti Semarang dalam hal pemasangan baru itu tidak benar.
Dalam pemasangan baru, ada dua kategori yakni hak PLN dan Instalasir.kami tetap mengacu pada Permen Enegeri dan Sumber Daya Mineral No 07/2010 tentang Tarif Tenaga Listrik Yang Disediakan Oleh Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perusahaan listrik Negara.
Pada Pasal 3 huruf b (1) , Tarif Dasar Listrik untuk keperluan Rumah Tangga, terdiri atas Golongan tarif untuk keperluan rumah tangga kecil pada tegangan rendah, dengan daya 450 VA sampai dengan 2.200 VA (R-1ITR).
Dan sesuai dengan Pasal 8, bahwa Biaya Penyambungan untuk penyambungan baru atau penambahan daya tenaga listrik yang disambung dengan jaringan standar ditetapkan sebagaimana tercantum dalam Lampiran IX Peraturan Menteri ini.
Supiandi menjelaskan, sambungan 1 fasa atau 3 fasa dengan pembatasan daya dan pengukuran Tegangan Rendah. Tersambung sampai dengan 2.200 VA ialah 750 rupiah per VA. Untuk menyambung listrik, biaya yang dikenakan oleh PLN sangat murah.
“Untuk 450 VA (volt ampere) hanya Rp 337.000. dan 900 VA hanya Rp 675.000. di tambah Rp 3000 untuk biaya materai. Itu yang wajib disetor oleh pelanggan baru kepada kami. Biaya diluar itu, hak instalatir,” tegas Supiandi ditemui diruang kerjanya, belum lama ini.
Pian-sapaan akrabnya menjelaskan, yang menjadi tanggungjawab PLN ialah sambungan dari tiang listrik ke kwh meter rumah yang bersangkutan. Sedangkan selebihnya hak instalatir untuk mematok harga kepada pelanggan baru, dan itu semua tergantung dengan kesepakatan kedua belah pihak.
Perlu diketahui, hak instalatir ialah jaminan instalasi, gambar instalasi, instalasi, dan upah. Di Kabupaten Bengkayang memiliki dua instalatir yang resmi bekerjasama dengan PLN, yakni Koperasi Kekar dan Kaltaraya teknik, lain dari itu tidak resmi.
Pian kembali menegaskan, pelanggan saat mengajukan pemasangan baru hanya dikenai biaya sesuai Permen Energi dan Sumber Daya Mineral No 07/2010 saja dan biaya materai 3000. Walaupun pelanggan tinggal di Siding atau Suti Semarang, biaya yang harus di setor ke PLN tetap berdasarkan aturan yang berlaku.
“Walaupun pelanggan baru sudah membayar biaya pasang baru sesuai daya, dan instalatir sudah survey ke lokasi tetapi belum menyerahkan jaminan dan gambar instalasi tidak akan dipasang. Pihak instalasir wajib menyerahkan keduanya baru mendapatkan ijin untuk melakukan instalasi,” ungkapnya.
Oleh karena itu, seluruh masyarakat Bumi Sebalo harus mengetahui apa hak PLN dan Instalatir. Pian mengungkapkan kurangnya pengetahuan masyarkat mengenai biaya pasang baru menyebabkan banyak asumsi-asumsi yang merugikan pihak PLN.
“Kami akui, kurangnya sosialisasi kepada masyarakat Bumi Sebalo mengenai pemasangan baru sehingga membuat banyak warga yang berasumsi semua biaya yang dikenai masuk ke kas PLN. Padahal ada hak PLN dan Instalatir,” jujurnya.
Kurangnya dana menjadi factor utama pihak PLN Ranting Bengkayang tidak dapat semaksimal mungkin untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat Bumi Sebalo sampai ke dusun, desa dan kecamatan. Pian membeberkan, ada wacana dari pihak PLN khususnya yang ada di kabupaten ini untuk melakukan terobosan baru dalam hal sosialisasi kepada seluruh elemen penduduk yang ada di wilayah kerjanya.
Ini dimaksud supaya para pelanggan dapat mengetahui secara jelas mana hak PLN dan Instalatir.(cah)
Sabtu, 22 Januari 2011
Polres dan Polhut Dishutbun Kabupaten Bengkayang Sita 5.738 Batang Kayu di Lembah Bawang
BENGKAYANG. Kerjasama antara Polres dan Polhut Dishutbun Kabupaten Bengkayang membuahkan hasil dengan melakukan penangkapan pembalakan liar yang ada di Kecamatan Lembah Bawang. Sebanyak 5.738 batang kayu berhasil di sita oleh Polres Bumi Sebalo. Barang bukti kayu illegal tersebut masih berada di TKP dan telah diberikan police line. Masyarakat sekitar TKP tidakmengetahui pemilik kayu tersebut.
AKBP Mosyan Nimitch SIK Kapolres Bengkayang didampingi Waka Polres Kompol Arianto, Kabag Ops Cepi Noval SIK, dan Kasat Intel Herman SIK mengatakan, Kamis (20/1) lalu bersama Polisi Hutan Dinas Kehutanan dan Perkebunanan Bumi Sebalo melakukan penangkapan pembalakan liar dalam rangka mendukung program kerja 100 hari Kapolri dimana kamis lalu memasuki hari yang ke 81 harinya.
“Sebanyak 5738 batang kayu berhasil diamankan di Dusun Meranti Desa Kinande Kecamatan Lembah Bawang. Jenis kayu yang diamankan tersebut terdiri dari jenis kayu meranti dan campuran. Ada yang berukuran 9 x 18 dan 8 x 12,” beber Nimitch saat konferensi pers di ruang kerjanya, Jumat (21/1).
Nimitch menjelaskan, kayu tersebut ditemukan dalam kawasan hutan produksi bukan dalam lahan perusahaan kelapa sawit. Ini sesuai kenyataan saat Polhut bersama jajaran Polres Bengkayang yang turun ke TKP mengecek lokasi pembalakan liar tersebut dengan menggunakan GPS (Global Potation Satelit) dan peta topografi kawasan hutan dari Kementerian Kehutanan tahun 2000.
“Sebanyak 10 orang saksi dimintai keterangannya mengenai pemilik kayu tersebut. Saat ini dan kami akan terus melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai kasus ini. Untuk 2011, ini merupakan kasus pembalakan liar yang pertama kalinya kami tangani,” aku Nimitch.
Nimitch melanjutkan, baru tiga truck yang sudah digeserkan dari lokasi kayu tersebut ke Kecamatan Samalantan. Sebenarnya kayu yang telah dibuat police line tersebut di bawa ke Mapolres Bengkayang, berhubung truck yang kami mintai bantuan untuk membawa barang bukti kayu tersebut tidak berani melintasi gunung Vandering.
“Mobil yang kami miliki tidak mampu membawa kayu tersebut, oleh karena itu kami memintai bantuan masyarakat yang memiliki truck untuk menggeserkan kayu yang berada di TKP ke Kecamatan Samalantan. Para wartawan dapat melihat sendiri kondisi mobil milik Polres Bengkayang yang rata-rata tidak mampu melalui jalan ke TKP,” jelas Nimitch kepada para wartawan.
Laporan polisi telah dibuat dan akan menindaklanjutinya. Kami juga telah melakukan pemeriksaan meraton terhadap kasus ini. Nimitch mengungkapkan pembalakan liar ini pasti ada tersangkanya, saat ini masih dalam proses penyidikan sehingga kami belum memberikan nama-nama tersangka, dan akan diberitahu kepada wartawan setelah selesai penyidikan.
Nimitch telah memerintahkan jajarannya untuk mengembangkan kasus ini lebih lanjut. Karena calon tersangka sudah ada. Perlu diketahui, setiap kegiatan pembalakan liar pasti ada pemodal, pengendali dan pekerja.
“Mengenai rumor atau isu yang mengatakan bahwa pembalakan liar di Kecamatan Lembah Bawang tersebut di boking oleh aparat keamanan, itu tidak benar,” tegas orang nomor satu di Mapolres Bumi Sebalo ini.
Sebanyak 57 personil dari Polres Bengkayag dikerahkan ke TKP baik itu dari satuan Intel, Serse dan Samapta. Polisi Hutan Dishutbun Bumi Sebalo mengerahkan tujuh personilnya. Sedangkan dari Polsek Samalantan hanya satu orang saja, sebagai penunjuk jalan menuju TKP. (cah)
Minggu, 16 Januari 2011
Jembatan di Jalan Menuju Suti Semarang Banyak Memakan Mangsa
Robertus: Sembilan Jembatan Menuju Suti Semarang Hanya Menggunakan Dua Keping Papan
BENGKAYANG. Bukan hanya jalan yang rusak berat di Kecamatan Suti Semarang, kondisi jembatan pun tidak kalah ironisnya. Bayangkan saja, kurang lebih sebanyak Sembilan buah jembatan menuju Suti Semarang hanya menggunakan dua keping papan, celakanya ada beberapa yang menggunakan satu keping saja. Dengan kondisi ini, jembatan tersebut hingga kini banyak memakan mangsa.
Robertus STh, Anggota DPRD Kabupaten Bengkayang mengatakan, Kecamatan Suti Semarang merupakan salah satu daerah terisolir yang ada di Bumi Sebalo. Hal ini dikarenakan akses jalan darat yang tidak memadai.
“Sebanyak Sembilan buah jembatan menuju Suti Semarang yang memakai dua keping papan, bahkan ada yang menggunakan satu keping papan saja. Kondisi in sangat memperihatinkan dan mengancam keselamatan setiap orang yang melewatinya,” beber legislator dari Fraksi PDI Perjuangan Dapil III ditemui dikediamannya di Sentagi Dalam, belum lama ini.
Petrus Landuk, 40, Kades Suti Semarang mengisahkan pengalamannya, Jumat (24/12) 2010 lalu diirnya pulang berbelanja dari Pasar Bengkayang untuk kebutuhan menyambut hari raya Natal. ia membawa kue, minuman, dan rempah-rempah.
Jembatan yang saya lalui hanya dua keping papan saja, saya terjatuh dan kaki di timpa motor. Nama sungainya ialah Sijahan. Lebar sungai kurang lebih 10 meter dan dengan ketinggian enam meter. Semua belanjaan basah, satu pun tak dapat di bawa pulang sehingga hanya merayakan Natal apa adanya. “Sudah banyak yang jungkir balik saat melewati jembatan tersebut, salah satunya Camat Suti Semarang, Yohanes Atet dan Wakil Bupati Bengkayang Agustinus Naon saat ia masih menjabat sebagai Staf Ahli Pemerintahan pernah jatuh disitu juga,” beber Landuk ditemui diruang kerjanya, belum lama ini.
Wakil Bupati Bengkayang periode 2010-2015 terjatuh saat mengikuti rombongan Bupati Bengkayang periode 2005-2010, Drs Jacobus Luna MSi melakukan kunjungan kerja ke Tapen dan Safari Ramadhan di Desa Cempaka Putih tepatnya sebelum Pemilukada Bumi Sebalo dilakukan. Hanya sangat disayangkan, Kadis PU belum pernah melintasi jembatan tersebut sehingga tidak merasakannya.
Landuk beharap kepada pemerintah daerah segera membangun jembatan tersebut. Sehingga tidak lagi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Karena selama ini jembatan tersebut mengancam keselamatan bagi yang mengguunakannnya. (cah)
Natal Oikumene Kabupaten Bengkayang Sederhana Tapi Meriah
Cornelis: Ajak Masyarakat bersama dirinya membangun Kalbar dari ketertinggalan
BENGKAYANG. Natal Oikumene yang diselenggarakan di Lantai V Kantor Bupati Bengkayang Jumat (14/1) diselenggarakan dengan sederhana tetapi meriah. Dalam kesempatan itu, Gubernur Kalbar mengajak seluruh elemen masyarakat Bumi Sebalo bersama dirinya membangun Kalbar dari ketertinggalan.
Drs Cornelis MH, Gubernur Kalimantan Barat mengatakan, dirinya meminta maaf kepada seluruh masyarakat Kabupaten Bengkayang karena telah lama menunggu kedatangan dirinya. Ini dikarena dalam sehari ia beserta istri dan rombongan mengikuti Natal Oikumene 2010 di tiga wilayah termasuk Bumi Sebalo. Sebelum di Bengkayang, ia dari Serimbu dan Ngabang. Jadi harap dimaklumi.
“Kita sebagai WNI, harus saling harga dan menghargai serta toleransi dalam keberagaman. Apabila merayakan Imlek atau lebaran, kita jangan pawai sehingga mengganggu bagi yang merayakannya untuk beribadah,berikanlah ketenangan dalam menjalankan ibadah. Begitu juga saat Natal, mereka pun memahami dan toleransi dimana kita sedang merayakannya dan melakukan ibadah. Jadi kita harus tetap toleransi dan tenggang rasa dalam keberagaman keyakinan,” saran Mantan Bupati Landak di Lantai 5 Kantor Bupati Bengkayang, Jumat (14/1).
Ketua DAD Kalbar ini menjelaskan, beberapa waktu lalu ia bersama masyarakat dayak lainnya melakukan orasi di Bundaran Hotel Indonesia untuk menuntut prof. Thamrin yang telah menghina suku dayak. Ia mengajak kepada seluruh warga Bumi Sebalo membantu dirinya untuk melawan professor gila tersebut. Bagi sarjanawan dan sarjanawati yang besic pendidikannya social dan hukum dapat kiranya membantu ia dalam penelitian untuk mementahkan penelitian dosen UI tersebut.
“Hari ini merupakan Hari Ulang tahun saya menjadi Gubernur Kalbar yang ketiga tahunnya dan saya merayakan bersama masyarakat Kabupaten Bengkayang. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama membangun Kalbar dari ketertinggalan, karena suatu daerah dikatakan terisolir dikarenakan insfrastuktur jalan yang tidak memadai. Tahun kemarin saya fokuskan pembukaan PPLB di Kabupaten Sambas dan kini sudah terealisasikan, tahun mendatang PPLB Kabupaten Bengkayang akan diperjuangkan untuk dibuka,” tegasnya.
Cornelis juga menyinggung wakil rakyat di provinsi yang tidak mendukung adanya proyek multi years. Padahal tidak dipungkiri, masyarakat sekitar proyek tersebut sangat mendambakan segera terealisasikan. Ini nyata sekali, hati mereka sudah tertutup karena demi kepentingan politik dan kelompok, bukan untuk kepentingan rakyat kecil.
“Bagi Bupati, Wakil Bupati, Sekda, Ketua dan anggota DPRD Kabupaten Bengkayang serta pejabat eselon II untuk dapat kiranya hadir pada natal oikumene di pendopo Gubernur yang dilaksanakan Minggu (15/1). Bagi yang belum mendapatkan undangan, anggap saja ucapan saya secara lisan ini sebagai undangan. Hari ini saya memenuhi undangan ditiga daerah yang berbeda, besok baru melayani para undangan saya,” seloroh Cornelis,kemarin.
Sementara itu, Bupati Bengkayang Suryadman Gidot SPd mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun Bumi Sebalo dari ketertinggalan dari kabupaten lain sesuai dengan bidang masing-masing.
“Pemda dan DPRD Bengkayang walau macam manapun berusaha, apabila tidak ada dukungan dari seluruh elemen masyarakat, susah untuk mewujudkan tanda dukungan dari semua pihak untuk mewujudkan cita-cita kita membuat Kabupaten Bengkayang lebih maju dari kabupaten lainnya. Mari bersama-sama mengejar ketertingalan kabupaten yang kita cintai ini,” ajaknya.
Mengenai daerah tertinggal dan terisolir yang ada di Bumi Sebalo,Gidot bersama SKPD akan berusaha sekuat tenaga untuk membuka wilayah terisolir yang tentunya tanpa bantuan dari semua pihak, hal ini tidak akan terealisasikan.
Kapolres Bengkayang, AKBP Mosyan Nimitch SIK membeberkan, sebanyak 50 personil ia kerahkan jajarannya untuk mengamankan kegiatan Natal dan Tahun Baru yang diselenggarakan di kantor satu atap ini. Masing-masing satuan Lantas dan Samapta yang diturunkan di lapangan.
Dari pantauan Equator dilapangan, Gubernur Kalbar beserta istri dan rombongan datang ke Bumi Sebalo pukul 16.40 dan disambut langsung oleh Bupati Bengkayang berserta istri dan seluruh elemen masyarakat yang hadir dengan diiringi tarian dayak sambut tamu.
Dikarenakan perjalanan jauh dan tidak berhenti dari Kabupaten Landak ke Bengkayang, kepala daerah Kalbar dan istri langsung mencari toilet, 10 menit kemudian baru menempati tempat yang telah disediakan oleh Panitia Natal.
Tampak hadir mantan Bupati Bengkayang periode 1999-2010, Drs Jacobus Luna MSi, Ketua dan Anggota DPRD Bengkayang, Dandim 1202 Singkawang, Kapolres Bengkayang, Kepala Kejaksaan Negeri, Kepala Pengadilan Negeri, Kepala SKPD se-Kabupaten Bengkayang, tokoh masyarakat, adat, agama, pastor, pendeta, serta suster.
Tema Natal dan Tahun Baru secara nasional ialah terang sesungguhnya yang menerangi setiap manusia sedang datang kedalam dunia , yohanes 1:1-9. Natal Oikumene 2010 Kabupaten Bengkayang. Kali ini sangat meriah, karena di hadiri oleh Gubernur Kalbar dan artis ibu kota Obbie Mesakh.
Cornelis sebagai Gubernur Kalbar menyalakan lilin pertama yang disiapkan oleh panitia, disusul oleh Suryadman Gidot selaku Bupati Bengkayang, kemudian Sebastianus Darwis sebagai Ketua DPRD Bengkayang, diikuti Agustinus Naon yang merupakan Wakil Bupati Bengkayang, Kristianus Anyim menjabat sebagai Sekda Bumi Sebalo.
Kepala Bimas Khatolik dan Protestan di Kementerian Agama Kantor Kabupaten yakni Alexander Tinggi SPd, Sag dan Yusak, serta terakhir Bupati Bengkayang periode 2000-2010, Drs Jacobus Luna MSi. Sebanyak delapan lilin yang disiapkan oleh panitia.
Sementara itu, suasana tempat kegiatan ini di Lantai lima, kursi yang disediakan oleh panitia baik di sayap kiri dan kanan dipenuhi oleh para undangan, baik itu dari umat kristiani maupun muslim dalam merayakan Natal Dan Tahun Baru di satu atap dari anak-anak sampai kakek-nenek.
Sebanyak empat layar televise berukuran 21 inci disiapkan oleh panitia di empat penjuru. Kejadian unik yang kerap terjadi apabila ada suatu kegiatan di Lantai Lima Satu Atap ialah, masyarakat yang hadir banyak terjebak dengan cat tembok kapur di satu atap. Pakaian mereka yag bersandar pun langsung putih dan ada beberapa warga yang sadar langsung mengibas-kibaskan pakaiannya yang terkena cat putih kapur tersebut. Sedangkan bagi yang tidak sadar, membawa kado manis dari satu atap ke rumahnya.
Di saat orang tua sedang khusyuk ibadah, sekelompok anak laki-laki di sayap kanan sibuk bermain dan ribut, tidak ada satu pun panitia yang menegur supaya tidak mengganggu acara yang sedang berlangsung. Sedangkan sebagian anak-anak lainnya, tampak mata yang lelah ingin tidur karena lelah menunggu selama beberapa jam baru kegiatan dimulai.
Perlu diketahui, panitia menebarkan undangan kepada para undangan menyebutkan kegiatan dimulai jam 16.00, tetapi berhubung menunggu tamu dari provinsi, acara baru dimulai pukul 07.00 sampai 22.15. Masyarakat banyak yang mengeluhkan dengan molornya kegiatan. Bagi yang sudah mengetahui acara akan molornya waktu kegiatan tersebut, datang pukul 18.00, tetapi bagi warga yang disiplin waktu, pukul 16.00 sudah ada ditempat kegiatan.
Celakanya, banyak para tamu baik itu masyarakat Bumi Sebalo yang menghadiri kegiatan dan para tamu dari provinsi banyak yang tidak kebagian makanan. Kejadian ini membuat para PNS Bumi Sebalo menyayangkan kejadian ini terjadi dan menjadi pembicaraan hangat usai kegiatan tersebut. Awalnya awak Koran ini tidak mengetahui kejadian tersebut, berhubung disana-sini membicarakan hal tersebut. Dapat dibayangkan, para tamu undangan yang tidak makan dari rumah, harus menunggu pukul 21.00 kampung tengahnya terisi. Parahnya, tamu VIP baru terisi perutnya usai acara di kediaman Bupati Bengkayang bagi umat Nasrani, dan di Pendopo Pemda untuk yang muslim.
Obbie Mesakh Bius Warga Bengkayang
Obbie Mesakh artis ibu kota Jakarta yang dihadirkan oleh Gubernur Kalbar dalam rangka merayakan Natal Oikumene, berhasil membius seluruh elemen masyarakat Bumi Sebalo dan ia juga sebagai daya tarik masyarakat rela menunggu berjam-jam walau belum makan dari rumah. Obbie membawakan beberapa lagu ciptaanya salah satunya ialah Kisah Kasih Di Sekolah dan lagu-lagu natal.
Disaat Obbie Mesakh dan Cornelis berduet maut dengan menyanyikan lagu ciptaan Pance Pondang dengan spontan tepuk tangan meriah dari para undangan. Gidot dengan replek ikut bernyanyi walau d kursi dan tangannya sesekali bergendang dengan meja di hadapannya. Sementara itu, ibu-Ibu pejabat Bumi Sebalo disibukkan dengan mengabadikan duet maut Kepala Daerah Kalbar dan Obbie Mesakh menggunakan handphone. Tamu undangan lainnya tak kalah saing dengan apa yang diperbuat oleh para tamu VIP, suara riang gembira membuat suasana meriah dan bahagia.
Seakan tidak mau kalah dengan suaminya, istri gubernur pun berduet maut dengan Obie Mesakh dan menyanyikan lagu demi kau si buah hati. Tidak dapat diperkirakan oleh semua orang, termasuk para wartawan dan juru gambar, tiba-tiba Cornelis membawakan sebuah bunga mawar dan diberikan kepada istri tercintanya dan langsung mencium pipi kiri dan kanan pasangan hidupnya dengan disaksikan ribuan pasang mata warga Bumi Sebalo. Tepuk tangan yang meriah dan terharu nampak di raut wajah para undangan.
Usai kegiatan, setelah Gubernur Kalbar beserta Istri dan pejabat Kabupaten Bengkayang meninggalkan ruangan, masyarakat menyerbu Obbie Mesakh untuk diabadikan sebagai kenang-kenangan. Mereka berfoto bersama dan saling berebut berada disisi artis ibu kota tersebut. Setelah itu, obbie Mesakh bersama panitia bersantai ria di tempat duduk VIP untuk menikmati buah-buahan yang telah tersedia kurang lebih lima menit termasuk awak Koran ini. (cah)
Jumat, 14 Januari 2011
Jumlah Guru Di Siding Memprihatinkan
Bengkayang. Kecamatan Siding salah satu kecamatan yang masih terisolir yang ada di Kabupaten Bengkayang. Selain akses jalan darat yang masih belum memadai, tenaga pengajar juga sangat memprihatinkan di wilayh perbatasan Indonesia-Malaysia ini.
Egarius Anggota DPRD Bengkayang mengatakan, dirinya selalu memantau kinerja para guru PNS yang mengajar di SMP Negeri 1 dan 2 Siding. Hal ini bertujuan untuk kemajuan pendidikan di Kecamatan Siding.
“Masyarakat Kecamatan Siding sangat peka apabila salah satu guru yang malas masuk mengajar. Pernah beberapa waktu lalu beberapa orang tua murid melaporkan kepada saya bahwa tenaga pengajar jarang masuk kantor, sehingga anak didik cepat pulang dan tidak mendapatkan ilmu pengetahuan,” beber Legislator dari Dapil III ditemui diruang kerjanya, belum lama ini.
Pria asal Sungkung Kecamatan Siding ini menjelaskan, setelah ia menerima keluhan dari orang tua murid, Egarius pun langsung memanggil guru tersebut dan meninjau langsung dilapangan walau dengan dana pribadi.
Legislator dari Partai Demokrat ini mengungkapkan, tingkat pendidikan di Kecamatan Siding hanya sampai SMP saja, apabila ingin meneruskan ke jenjang SMA harus keluar kecamatan. Banyak siswa-siswi yang melanjutkan ke SMA di Seluas, Jagoi Babang, Sanggau Ledo, Bengkayang. Bahkan ada yang bersekolah di Kabupaten Sanggau dan Landak.
“Orang tua murid sadar akan pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, apabila masih ditemukan tenaga pengajar di Kecamatan Siding yag malas masuk mengajar, dirinya tidak segan-segan membeberkan di media massa. Karena dengan dipublikasikannya guru tersebut, ada efek jera dan yang bersangkutan dapat intropeksi diri yang akhirnya rajin masuk mengajar,” tegasnya.
Lain halnya dengan Nuroji anggota Komisi X DPR RI saat kunjungan kerja Ke Kabupaten Bengkayang beberapa waktu lalu, ketersediaan guru bahasa Inggris di sejumlah daerah masih mengkhawatirkan melihat banyak sekolah yang tidak memiliki guru bahasa Inggris.
"Bagaimana mereka mau lulus dalam ujian nasional, sementara dalam ujian nasional (UN), matematika, Bahasa Inggris adalah yang ikut diujikan. Bukan hanya itu, sekolah-sekolah di sana juga tidak memiliki laboratorium Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Itu banyak dikeluhkan masyarakat " Tanya legislator dari Partai Gerindra Dapil Jawa Barat VI.
Karena itu, Nuroji sepakat agar formula UN diubah yakni 40 persen untuk mata pelajaran yang terdapat dalam nilai rapor dan 60 persen adalah mata pelajaran yang diujikan di UN. Sebab, ada beberapa mata pelajaran yang juga bisa menilai kecakapan siswa, seperti kesenian atau olahraga. Namun UN tetap diperlukan sebagai pemetaan ini.
Sementara itu, Kepala Bappeda Kabupaten Bengkayang menjelaskan, untuk Kecamatan Siding belum ada TK dan SMA. Yang ada baru SD dan SMP saja. Dan ketersediaan guru yang mengajar disana masih sangat terbatas.
Ditambahkan oleh Matius Pan Basten Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Siding mengungkapkan, ditempat ia mengajar hanya ada tiga PNS termasuk dirinya, dan sisanya tenaga honor dari daerah setempat. Setiap guru yang PNS merangkap dua sampai tiga mata pelajaran.
“Dana BOS yang di dapat dari pemerintah hanya cukup untuk membayar tenaga honor, sedangkan kebutuhan lain di sekolah harus dibeli sedikit demi sedikit karena terbatasnya anggaran,” jelas Basten saat ditemui Equator di Pasar Seluas, belum lama ini.
Wakil Bupati Bengkayang Jatuh Melewati Jembatan Menuju Suti Semarang
Robertus: Sembilan Jembatan Menuju Suti Semarang Hanya Menggunakan Dua Keping Papan
BENGKAYANG. Bukan hanya jalan yang rusak berat di Kecamatan Suti Semarang, kondisi jembatan pun tidak kalah ironisnya. Bayangkan saja, kurang lebih sebanyak Sembilan buah jembatan menuju Suti Semarang hanya menggunakan dua keping papan, celakanya ada beberapa yang menggunakan satu keping saja.
Robertus STh, Anggota DPRD Kabupaten Bengkayang mengatakan, Kecamatan Suti Semarang merupakan salah satu daerah terisolir yang ada di Bumi Sebalo. Hal ini dikarenakan akses jalan darat yang tidak memadai.
“Sebanyak Sembilan buah jembatan menuju Suti Semarang yang memakai dua keping papan, bahkan ada yang menggunakan satu keping papan saja. Kondisi in sangat memperihatinkan dan mengancam keselamatan setiap orang yang melewatinya,” beber legislator dari Fraksi PDI Perjuangan Dapil III ditemui dikediamannya di Sentagi Dalam, belum lama ini.
Petrus Landuk, 40, Kades Suti Semarang mengisahkan pengalamannya, Jumat (24/12) 2010 lalu diirnya pulang berbelanja dari Pasar Bengkayang untuk kebutuhan menyambut hari raya Natal. ia membawa kue, minuman, dan rempah-rempah.
Jembatan yang saya lalui hanya dua keping papan saja, saya terjatuh dan kaki di timpa motor. Nama sungainya ialah Sijahan. Lebar sungai kurang lebih 10 meter dan dengan ketinggian enam meter. Semua belanjaan basah, satu pun tak dapat di bawa pulang sehingga hanya merayakan Natal apa adanya. “Sudah banyak yang jungkir balik saat melewati jembatan tersebut, salah satunya Camat Suti Semarang, Yohanes Atet dan Wakil Bupati Bengkayang Agustinus Naon saat ia masih menjabat sebagai Staf Ahli Pemerintahan pernah jatuh disitu juga,” beber Landuk ditemui diruang kerjanya, belum lama ini.
Wakil Bupati Bengkayang periode 2010-2015 terjatuh saat mengikuti rombongan Bupati Bengkayang periode 2005-2010, Drs Jacobus Luna MSi melakukan kunjungan kerja ke Tapen dan Safari Ramadhan di Desa Cempaka Putih tepatnya sebelum Pemilukada Bumi Sebalo dilakukan. Hanya sangat disayangkan, Kadis PU belum pernah melintasi jembatan tersebut sehingga tidak merasakannya.
Landuk beharap kepada pemerintah daerah segera membangun jembatan tersebut. Sehingga tidak lagi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Karena selama ini jembatan tersebut mengancam keselamatan bagi yag mengguunakannnya. (cah)
Selasa, 04 Januari 2011
Keterisoliran dan Kemiskinan Tantangan Pemda Bengkayang
BENGKAYANG. Berkaitan dengan tantangan yang dihadapi dalam pembangunan tahun 2011 yang akan datang Gidot mengungkapkan, bahwa keterisoliran dan kemiskinan merupakan tantangan yang harus terus dijawab oleh daerah ini.Wakil Bupati Bengkayang 2005-2010 ini berpendapat bahwa keterisoliran memberikan kontribusi yang besar terhadap tingkat kemiskinan.
Suryadman Gidot, SPd Bupati Bengkayang mengatakan, keberhasilan yang telah diraih oleh pemerintah kabupaten dari berdiri hingga tahun 2010, dari beberapa keberhasilan tersebut yaitu aktivitas perekonomian yang menujukan peningkatan yang positif yang ditandai dengan tingkat pertumbuhan pdrb diatas rata-rata 4,5%, yang berdampak pula pada pendapatan perkapita yang mengalami kenaikan rata-rata 13 persen untuk setiap tahunnya dimana pada tahun 2005 PDRB perkapita atas dasar harga berlaku sebesar 6,1 juta rupiah menjadi 10,2 juta rupiah pada tahun 2009 yang lalu.
“Prestasi ini sangat menggembirakan kita bersama dan untuk kinerja ekonomi tersebut maka Kabupaten Bengkayang dianugerahkan sebagai kabupaten yang menerima penganugerahan sebagai kabupaten yang menduduki peringkat kedua se Propinsi Kalimantan Barat yang kinerja perekonomiannya menujukan pertumbuhan yang baik oleh lembaga GTZ JERMAN bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan media cetak lokal beberapa waktu yang lalu,” terang Gidot ditemui di Mess Pemerintah Kabupaten Bengkayang, belum lama ini.
Suami dari Femi Oktaviani Gidot SE menjelaskan, pertumbuhan ekonomi yang positif tersebut telah membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat Kabupaten Bengkayang yang tergambar dari peningkatan usia rata rata harapan hidup masyarakat Bumi Sebalo dari 68,4 tahun pada tahun 2007 menjadi 68,57 tahun pada tahun 2008.
Karena dengan dengan keterisoliran daerah maka hasil usaha masyarakat tidak dapat memberikan kontribusi yang memadai dalam meningkatkan pendapatan karena biaya yang ditanggung dalam proses produksi dan distribusi tidak sebanding dengan harga yang diterima.
“Kondisi ini tidak dapat memotivasi masyarakat untuk meningkatkan produktivitasnya. Berikutnya kondisi terisolir ini juga telah berdampak pada sulitnya masyarakat untuk menikmati pembangunan dan memperoleh layanan yang memadai terutama bidang kesehatan dan pendidikan. Untuk menjawab masalah ini, pembukaan kawasan terisolir melalui pembangunan jalan dan jembatan merupakan kebijakan prioritas yang dijalankan beberapa tahun kedepan terutama dua kecamatan yang belum dapat dilalui kendaraan roda 4 yakni kecamatan siding dan kecamatan suti semarang,” tegasnya.
Dengan kebijakan ini diharapkan dapat menjadi urat nadi yang dapat menggeliatkan aktivitas ekonomi masyarakat di dua kecamatan tersebut yang muaranya pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Jika hal ini dapat dengan cepat diatasi maka Gidot berpendapat bahwa angka kemiskinan di Kabupaten Bengkayang akan dapat ditekan pertumbuhannya bahkan dikurangi.
“Semoga apa yang akan dijalankan oleh pemerintah daerah sebagaimana visi dan misi daerah yang dijabarkan dalam rpjmd kabupaten bengkayang 2010–2015 dapat didukung bersama oleh seluruh lapisan masyarakat dan steakholder di Bumi Sabalo ini agar masyarakat kabupaten bengkayang yang sejahtera, cerdas, sehat, beriman, demokratis dan mandiri dalam keberagaman sebagaimana visi kabupaten bengkayang 2010-2015 dapat diwujudkan,”harapnya.(cah/humas bky)
Perusahaan Perkebunan Sawit Bermasalah, Masyarakat Harus Intropeksi Diri
Ebot: Kabupaten Bengkayang belum ada aturan mengenai ijin lokasi oleh instansi teknis
Bengkayang. Yulianus Widodo S Farm Apt anggota DPRD Bengkayang mengatakan, mengenai pemanfaatan kawasan hutan untuk perkebunan dimana sebanyak enam perusahaan perkebunan kelapa sawit yang bermasalah di Bumi Sebalo yang semuanya sudah beroperasi dengan luas area mencapai 28560 hektar belum mendapat izin lokasi tetapi sudah ditanam, masyarakat harus intropeksi diri mengenai hal ini. Kabupaten Bengkayang belum ada aturan mengenai ijin lokasi oleh instansi teknis.
“Apabila masyarakat sekitar tahu dengan semua aturan mengenai izin lokasi pada perusahaan perkebunan sawit, hal ini tidak akan terjadi dan pihak perusahaan tidak berani beroperasi. Ini merupakan pelajaran berharga bagi kita supaya tetap jeli apabila perusahaan mau masuk ke daerah kita,” saran Legislator Demokrat dari Dapil III via telepon seluler, Selasa (4/1).
Sugianto Ebot, Sekretaris LSM Bina Lingkungan Hidup Borneo Kabupaten Bengkayang menuturkan, banyaknya terjadi permasalahan tentang warga masyarakat dengan perusahaan perkebunan yang terjadi di Kabupaten Bengkayang, di duga akibat tidak adanya perhatian pihak perusahan perkebunan.
Ini bukan merupakan wujud ke tidak patuhan saja, melainkan juga sebagai wujud dari memang tidak adanya rencana yang terukur dalam pemanfaatan lahan tersebut. Kesimpulannya kita meminta ke Bupati Bengkayang agar tidak memberikan izin lokasi tersebut dan kemudian melepaskannya kepada pihak lain untuk dapat di manfaatkan dalam rangka meningkatkan PAD Bengkayang.
Masalah izin lokasi yang di atur di Permen Agraria BPN No. 2/ 1999, kalau tidak sampai pembebasan Lahannya 50% dari luas izin lokasi, maka izin lokasi tidak dapat di perpanjang dan pemegang izin harus melaporkan kemajuan pembebasan/tri wulan ke Dinas Perkebunan
“Parahnya, di Kabupaten Bengkayang belum ada aturan mengenai ijin lokasi oleh instansi teknis. Oleh karena itu, perlu dibuat segera perda atau peraturan bupati, sehingga aturan itu jelas dan tidak tumpang tindih. Selama ini kita hanya mengacu kepada Permen Agraria BPN No. 2/ 1999 tentang izin lokasi.
Peranan eksekutif dan legislatif sangat penting dalam hal ini“ terang Ebot ditemui dikediamannya di jalan Basuki Rachmad, Selasa (4/1).
Ebot membeberkan, pihaknya akan memanggil enam perusahaan perkebunana sawit yang bermasalah tersebut untuk beraudiensi mengenai permasalahan dalam hal izin lokasi. kami siap memfasilitasi antara pihak eksekutif, legislatif dan perusahaan dalam hal ini.
Namun, tak mudah juga bagi perusahaan baru itu untuk mendapatkan izin perkebunan sawit. Mekanisme perizinan pendirian perkebunan sawit dilakukan melalui tiga tahap yakni izin informasi lahan, izin usaha perkebunan, dan izin lokasi.
Setiap tahapan memiliki tenggat waktu dan serangkaian proses yang harus dilakukan. Kalau tidak dipatuhi, izin-izin itu akan dicabut. Untuk tahap izin informasi lahan, tenggat yang diberikan adalah satu tahun. Di sini, investor harus melakukan studi awal lokasi dan analisis dampak lingkungan.
Perusahaan mesti menganalisis luas lahan yang efektif untuk perkebunan sawit. Jadi, misalnya, ada 25 ribu hektare lahan yang diberikan bupati sebuah wilayah kepada satu perusahaan untuk dianalisis. Ternyata, hanya 18 ribu hektare yang cocok untuk dikembangkan. Lahan yang cocok itulah yang harus dikembangkan oleh investor.
Pontius S Hut, Aktivis Pemuda Kabupaten Bengayang menjelaskan, pencadangan tanah dan izin lokasi diatur dalam peraturan Kepala Daerah Kabupaten/kota dengan Peraturan Daerah masing-masing yang esensinya kurang lebih mencakup perusahaan–perusahaan yang memerlukan tanah untuk keperluan usahanya harus mengajukan permohonan arahan lokasi kepada Bupati/Walikota dengan tembusan kepada kepala kantor Pertanahan, Kepala Dinas Perkebunan dan Kepala Dinas Kehutanan Dati II dengan melampirkan rekanan akte pendirian perusahaan yang telah disahkan oleh menteri Kehakiman dan HAM.
Dalam memperoleh arahan lokasi tersebut Kepala Kantor Pertanahan mengadakan koordinasi dengan instansi terkait dan mencadangkan areal nonhutan (di Kalteng disebut sebagai kawasan pengembangan produksi-KPP, di propinsi lain disebut Areal Pengembangan Lain–APL).
Bupati / Walikota menerbitkan surat keputusan arahan lokasi yang berlaku 6 - 12 bulan ( tergantung kabupatennya ). Berdasarkan surat keputusan arahan lokasi perusahaan dapat melakukan kegiatan Survey lahan . Jika lahan yang diarahkan sesuai untuk pengembangan sawit maka perusahaan dapat mengajukan permohonan izin prinsip.
Izin Prinsip akan dikeluarkan oleh Bupati/walikota untuk jangka waktu selama 1 tahun . Selama periode tersebut, pengusaha harus melakukan kegiatan/penguasaan atas tanah dan mengajukan izin prinsip.
Permohonan izin lokasi di ajukan kepada Bupati/Walikota dengan lampiran status penguasaan tanah yang telah dilakukan. Izin lokasi biasanya berlaku 2 tahun.
“Setelah mendapatkan izin lokasi , Perusahaan harus melakukan AMDAL sebagai syarat untuk mendapatkan Izin Usaha Perkebunan ( IUP ). Setelah IUP diterbitkan, perusahaan harus mengajukan Izin pembukaan lahan ( LC ) dan dapat segera beroperasi sejalan dengan permohonan HGU kepada BPN,” jelas Pontius ditemui di Jalan Basuki Rachmad, kemarin.
Pontius menerangkan, Izin lokasi yang telah berakhir dapat diperpanjang. Permohonan perpanjangan izin tersebut harus diajukan selambat-lambatnya 10 hari kerja sebelum habis jangka waktu izin lokasi berakhir disertai dengan alasan perpanjangannya. Permohonan izin lokasi hanya boleh diajukan bila syarat perolehan tanah sudah lebih dari 50 % areal yang dicadangkan.
Perpanjangan izin lokasi hanya diperbolehkan satu kali untuk periode 12 bulan. Bupati/Walikota menerbitkan keputusan perpanjangan izin lokasi selambat-lambatnya 10 hari kerja setelah diterimanya berkas permohonan perpanjangan izin lokasi. (cah)
Senin, 03 Januari 2011
Rabat Beton Tak Kuat, Pronton, Eskapator, dan Truck Tumbang
BENGKAYANG. Proyek multi years yang mengeluarkan dana milyaran rupiah untuk meningkatkan jalan Sanggau Ledo-Seluas-Jagoi Babang ke titik nol perbatasan terindikasi tidak kuat. Hal ini dikarenakan rabat beton tersebut tidak memakai tulang dan saat ini banyak yang rusak. Parahnya, dalam sebulan dua buah mobil tumbang, yakni truck dan pronton yang membawa eskapator.
Egarius, anggota DPRD Bengkayang mengatakan, jalan rabat beton yang dibuat di jalan provinsi tepatnya di Dusun Pereges Desa Seluas Kecamatan Seluas kualitasnya dipertanyakan. Hal ini dikarenakan dalam pembuatan jalan rabat beton tersebut tidak memakai tulang atau besi.
“Tulang atau besi sangat berpengaruh dalam ketahan jalan rabat beton. Apalagi ini jalan provinsi, banyak aktifitas lalu lintas baik kendaraan roda dua, empat dan bahkan pronton. Jalur ini juga menuju ke Serikin Serawak Malaysia, apabila kualitasnya tidak baik, jalan akan cepat rusak,” terang Legislator dari Dapil III ini ditemui dikediamannya di Dusun Pereges, belum lama ini.
Legislator dari Partai Demokrat inimenjelaskan, ia yakin rabat beton yang dibuat di jalan provinsi ini tidak bertahan dengan lama. Baik itu karena dalam pembuatannya tidak memakai tulang, juga campuran nya sedikit semen tetapi banyak pasirnya.
Apabila memakai tulang, apabila jalan rabat beton tersebut retak, tidak akan hancur. Tetapi apabila tidak memakai tulang, akan hancur dan berderai bongkahan beton tersebut. Egarius sangat menyayangkan pihak ketiga dalam membuat jalan dengan kualitas tidak baik.
“Saya juga tukang, jadi tahu takaran semen dan pasir mana yang lebih banyak. Pernah waktu itu saya menegur para pekerja tersebut karena banyak pasir dibandingkan semen untuk rabat beton. Apabila kualitas jalan tidak baik, kami yang merasakannya karena kami warga sini,” ungkap Eqarius.
Egarius mengungkapkan, siapa saja yang bekerja, kerjakanlah dengan baik. Percuma saja pemerintah mengeluarkan dana milyaran rupiah tetapi kualitas dalam pengerjaannya asal-asalan. Kasihan dengan warga yang menggunakan jalan ini sehari-hari.
“Warga banyak mengusulkan kepada dewan dan bupati untuk memperbaiki jalan di wilayahnya. Setelah terealisasikan, jalan yang diperbaiki tidak bagus dan asal jadi. Bagi yang mengerjakan jalan tersebut, kerja yang betul-betul, walaupun tidak sampai 100 persen, tetapi minimal 75 persen jadilah. Jangan pengerjaannya hanya 35 persen, masyarakat yang sakitnya,” sarannya.
Bukan rahasia lagi dalam hal pengerjaan proyek, pemerintah sudah menghitung berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk pengerjaan jalan rabat beton tersebut, dan biaya untuk keuntungan pemborongnya. Apabila jalan selalu diperbaiki tetapi pengerjaannya asal jadi tidak memikirkan kualitas ketahanan jalan, perhatian pemerintah bukan hanya untuk jalan tersebut saja tetapi masih banyak lagi.
“Oleh karena itu, kepada semua pihak dalam hal ini bekerjalah sesuai bistek dan tetap menjaga kualitas ketahanan jalan,” harap pria asal Sungkung Kecamatan Siding ini.
Sementara itu, salah satu warga Kecamatan Seluas yang tidak ingin disebutkan namanya saat melintas jalan di Pereges, ia meragukan ketahanan rabat beton yang ada di daerah tersebut. Belum saja diresmikan sudah banyak yang retak dan hancur rabat betonnya.
“Rabu (15/12) lalu, sebuah mobil truck milik orang Kabupaten Landak saat melintas jalan yang rabat beton ini tumbang. Dan Kamis (30/12), sebuah mobil tronton yang membawa eskapator dari PT WKN tumbang saat melintas jalan rabat beton di Kuburan Desa Pereges Kecamatan Seluas,” beber pria berambut lurus dan berkulit sawo matang ini.
Ia menjelaskan, hingga saat ini eskapator tersebut masih berada di tempat kejadian. Sedangkan trontonnya sudah kembali ke Pontianak. Ia menarik kesimpulan, badan jalan rabat beton tersebut tidak kuat menahan beban, sehingga pronton tersebut tumbang.(cah)
Langganan:
Postingan (Atom)





