SURAT KEPUTUSAN

SURAT KEPUTUSAN
SK DARI MENTERI PERTAHANAN DAN KEAMANAN RI

Minggu, 05 Desember 2010

PODJ Inginkan Perbaikan Jalan

BENGKAYANG. Ratusan kepala keluarga menggantungkan dirinya pada ojek menuju Serikin Serawak Malaysia dari batas nol Jagoi Babang. Keuntungan para ojek dapat diraup hanya hari Jumat saja, selebihnya kadang tidak dapat uang. PODJ menginginkan jalan provinsi diperbaiki, walaupun perhatian pemerintah di bidang lainnya tidak diperhatikan. Masardi, 32, Ketua Harian PODJ (Persatuan Ojek Desa Jagoi) mengatakan, setiap hari Jumat di batas nol banyak tumpangan yang ingin menuju Serikin. Karena setiap malam sabtu dan minggu ada pasar tumpah di Serikin Kucing Malaysia. “Dari batas nol sampai Serikin dengan jarak 4,5 kilometer, perorang dan barang dikenai biaya 15 ringgit Malaysia atau 40 ribu rupiah. Dan pajak untuk masuk kas PODJ sebesar seribu rupiah. Anggota kami sebanyak 142 orang, dan yang aktif hanya 90 orang,” terang Masardi kepada Equator di pangkalan Ojek batas nol, Minggu (5/12). Ia menjelaskan, pedagang asal Indoensia setiap hari jumat membayar dengan rupiah, sedangkan hari sabtu dan minggu dengan ringgit Malaysia. Pada hari biasa (Senin-Kamis, dan Sabtu), sudah standby di pangkalan ojek jam 06.00 sampai 15.30. Apabila hari Jumat, kadang sampai pukul 03.00. “Kebanyak Pedagang yangmemakai jasa ojek berasal dari Pontianak, Pemangkat, Tebas, Sejangkung, dan Sambas. Para pengguna ojek datang ke batas nol di Jagoi Babang menggunakan kendaraan roda empat. Warga Kabupaten Bengkayang sedikit sekali, hanya membawa sayur dan bidai dengan kendaraan pribadi,” jelasnya. Saat awak koran ini menanyakan, apabila batas sudah di buka dengan resmi, apakah tidak mengganggu pekerjaan yang selama ini digeluti oleh mereka untuk menafkahi keluarga. “Kami belum tau apa yang akan kami lakukan, semuanya tergantung kepada kebijakan pemerintah”tegasnya. Ia mengungkapkan, pergantian pengurus setiap dua tahun seklai. Setiap anggota memiliki hak untuk memilih kepengurusan baru, tidak lama lagi akan diadakan pemilihan pengurus PODJ setelah Pilkades Jagoi Babang. Sementara itu, No Liu, 28, Warga Desa Jagoi Babang yang juga anggota PODJ, ia hanya dua hari sebagai ojek, yakni pada hari Jumat dan Minggu. Hari lainnya sebagai petani seperti noreh, dan bercocok tanam yang laku di jual di Serikin seperti jahe, kunyit, lada, dan cabe. “Selama ini, pemerintah baik pusat, provinsi, bahkan kabupaten tidak pernah memperhatikan mereka. Terutama bantuan untuk PODJ. Para pengojek tidak meminta lebih kepada pemerintah, mereka hanya meminta jalan diperbaiki dengan baik. “Selama ini, jalan diperbaiki tetapi dalam hitungan bulan sudah hancur lagi. Entah kapan baru bagus jalan di sini. Seharusnya pemerintah mengawasi para kontraktor yang mengerjakannya, yang merasakan ialah masyarakat disini, bukan pusat atau provinsi,” keluhnya. Walaupun daerah perbatasan selalu di anak-tirikan oleh pemerintah, tetapi warga di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia masih mencintai NKRI. Jangan sampai masyarakat di wilayah perbatasan berpaling ke lain hati dan memilih WNM (Warga Negara Malaysia). Oleh karena itu, pemerintah segera melakukan perbaikan dan mengawasi segala program sampai ke lapangan, jangan hanya menerima laporan di atas meja saja. Pepatah mengatakan, “Lebih baik Terlambat, Dari Pada Tidak Sama Sekali”. (cah)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar